Banner Atas

Provinsi Riau

Udara Tidak Sehat, Plt Gubri Imbau Masyarakat Gunakan Masker dan Batasi Aktivitas di Luar Rumah

News Senin, 24 Agustus 2026 - 07:40 WIB
Udara Tidak Sehat, Plt Gubri Imbau Masyarakat Gunakan Masker dan Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengimbau masyarakat untuk dapat meningkatkan kewaspadaan di tengah karhutla dan sebaran asap yang terjadi di sejumlah wilayah Riau, khususnya Pelalawan dan sekitarnya. DISKOMINFOTIK RIAU/FS

RIAU (DPPR) – Akibat kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara di beberapa kota diRiau' style='color:#0078b8;'> Riau bermasalah. Misalnya saja Kota Pekanbaru, Riau, sudah berada pada kategori tidak sehat, Ahad (23/8/2026) kemarin. Kondisi ini terpantau dari dua sumber pemantauan kualitas udara, yakni IQAir dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan data IQAir yang dipantau pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 161 atau masuk kategori tidak sehat. Polutan utama yang terdeteksi adalah partikulat halus PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 70,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengimbau masyarakat untuk dapat meningkatkan kewaspadaan di tengah karhutla dan sebaran asap yang terjadi di sejumlah wilayah Riau, khususnya Pelalawan dan sekitarnya.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat kondisi udara mulai terdampak asap. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, dirinya juga mengingatkan untuk menggunakan masker.

"Kalau memang tidak ada keperluan, masyarakat sebaiknya tetap di rumah. Kalau harus keluar, gunakan masker," kata SF Hariyanto.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terlebih kondisi cuaca saat ini cenderung kering sehingga api berisiko mudah meluas.

"Jangan membakar lahan. Satu orang membakar lahan bisa berdampak ke semua orang," ujarnya.

Menurut SF Hariyanto, pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya titik api baru.

Karena itu, ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kebakaran maupun aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu karhutla.

"Kami meminta masyarakat turut membantu dengan segera melaporkan apabila menemukan adanya kebakaran atau aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi menimbulkan karhutla," pungkasnya.

Semai Garam untuk OMC

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memanfaatkan peluang pertumbuhan awan untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemadam Kebakaran (Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hujan di wilayah sasaran.

"OMC dilakukan berdasarkan kondisi awan. Kalau ada awannya, baru bisa kita lakukan," kata M Edy, Ahad (23/8/2026).

Berdasarkan prakiraan cuaca, peluang pertumbuhan awan diperkirakan terjadi pada 23-24 Agustus dan masih berpotensi hingga sekitar 29 Agustus. Kondisi tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung operasi pemadaman dan penanganan karhutla.

"Tanggal 23-24 Agustus ada pertumbuhan awan, kemudian kosong, lalu sekitar tanggal 29 Agustus ada potensi pertumbuhan awan lagi. Kita manfaatkan itu untuk segera melakukan OMC," ujarnya.

Edy mengatakan, wilayah yang berpotensi mendapatkan pertumbuhan awan masih terus dipantau, terutama wilayah utara Riau. Keberadaan awan menjadi faktor penting untuk menentukan pelaksanaan penyemaian dalam operasi tersebut.

"Wilayahnya masih kita pantau, terutama di wilayah utara Riau. Kalau ada awan yang memungkinkan, kita lakukan OMC," jelasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan OMC, BPBD Riau menyiapkan satu pesawat Cessna Caravan yang digunakan untuk penyemaian garam pada awan cumulonimbus.

Selain OMC, dukungan operasi udara juga tetap dilakukan melalui water bombing. Dari enam pesawat water bombing yang sebelumnya tersedia, dua di antaranya telah digeser untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan.

"Sekarang tersisa empat unit, tiga beroperasi dan satu maintenance," kata Edy.

BPBD Riau juga mengoperasikan dua helikopter untuk patroli. Seluruh dukungan udara tersebut dikoordinasikan dengan operasi darat untuk mempercepat penanganan karhutla.

Edy menegaskan, peluang pertumbuhan awan yang muncul akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Hal ini dilakukan mengingat setelah periode tersebut, pertumbuhan awan diperkirakan kembali berkurang.

Dengan strategi tersebut, Pemprov Riau berharap OMC dapat membantu meningkatkan potensi hujan dan mendukung upaya pemadaman karhutla yang dilakukan tim di lapangan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memiliki stok sekitar 110 ribu masker yang akan didistribusikan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, stok masker yang tersedia tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak asap, khususnya Pelalawan.

"Hingga November nanti, diharapkan stok (masker) kita cukup. Saat ini tersedia 110 ribu," kata SF Hariyanto

Ia mengatakan, Pemprov Riau akan menyalurkan berbagai bantuan ke Pelalawan, pada Senin (24/8/2026). Bantuan tersebut tidak hanya berupa masker, tetapi juga obat-obatan dan kebutuhan kesehatan lainnya.

"Besok kita akan menyalurkan berbagai bantuan, termasuk masker dan obat-obatan untuk masyarakat dan tim pemadam yang bertugas di lapangan," ujarnya.

SF Hariyanto meminta stok masker yang ada segera disalurkan ke daerah yang membutuhkan, namun tetap memperhitungkan kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan.

Selain mengandalkan stok yang tersedia, Pemprov Riau juga meminta dukungan tambahan dari pemerintah pusat. Dinas Kesehatan Riau telah bersurat ke pemerintah pusat untuk mengajukan bantuan guna memperkuat persediaan perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak asap.

"Ini Dinas Kesehatan sudah bersurat juga ke Kementerian untuk mengajukan bantuan, Alhamdulillah direspons baik," katanya.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi karena kebutuhan masker dan obat-obatan diperkirakan meningkat apabila sebaran asap semakin meluas. Bantuan juga diarahkan untuk mendukung tim pemadam yang masih bertugas di lapangan.

Selain masker, perhatian diberikan terhadap kebutuhan kesehatan kelompok rentan, seperti ibu hamil dan balita. (MNA/MCR)

 

Muthia NA
Editor :Fithriady Syam