Lintas Generasi, Program Teman Sebangku Jadi Ruang Alumni SMAN 8 Pekanbaru Berbagi Inspirasi
Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas generasi yang menghadirkan cerita, pengalaman, dan inspirasi dari alumni SMAN 8 Pekanbaru Angkatan 2001. DOK KOTAK BACA/FS
PEKANBARU (DPPR) – Banyak hal menarik yang dibentangkan dalam pertemuan ini. Komunitas Kotak Baca, ruang inklusif dan perpustakaan independen di Kota Pekanbaru, menggelar kegiatan Teman Sebangku; Dialog dari Ingatan untuk Masa Depan di PRIME Park Hotel Pekanbaru, Ahad (19/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas generasi yang menghadirkan cerita, pengalaman, dan inspirasi dari alumni SMAN 8 Pekanbaru Angkatan 2001.
Pendiri Kotak Baca, Dea Gita, mengatakan reuni perak tersebut sengaja dikemas bukan sekadar ajang melepas rindu, tetapi menjadi wadah berbagi pengalaman bagi generasi muda Pekanbaru yang tengah menghadapi tantangan zaman digital.
"Literasi bukan hanya membaca buku, tetapi juga belajar dari pengalaman, memahami perubahan zaman, dan berani menatap masa depan," ujar Dea.
Menurutnya, melalui dialog tersebut, para alumni berbagi perjalanan hidup, karier, hingga nilai-nilai yang membentuk mereka menjadi pribadi seperti saat ini.
"Kegiatan ini kami buat sebagai ruang positif di akhir pekan. Tempat untuk sama-sama merefleksikan sudah sejauh mana perjalanan hidup kita, apa mimpi yang masih terpendam, dan ke mana arah yang ingin dituju. Semua itu bisa kita diskusikan bersama," cakapnya.
Dea menjelaskan, kegiatan itu juga dilatarbelakangi kondisi generasi muda saat ini yang hidup di tengah derasnya arus informasi digital.
Kemudahan mengakses informasi sering kali membuat banyak anak muda mudah membandingkan diri dengan orang lain, kehilangan arah, hingga kesulitan menemukan ruang yang tepat untuk bertumbuh.
Acara yang berlangsung hangat itu juga diwarnai gelak tawa dan momen nostalgia melalui foto-foto lama semasa sekolah sebelum dilanjutkan dengan sesi diskusi.
Lima alumni yang menjadi narasumber yakni Sri Darma Krida, Finance and HR Officer DUS Inc. Maryland, Amerika Serikat. Kemudian Donny Wahyudi, Head of Communication & Corporate Affairs The Magnum Ice Cream Company.
Selanjutnya Adi Fatkhurrohman, General Manager Mining & Power Plant PT Semen Tonasa.
Lalu Moh. Shadiq Helmy, Business Transformation Oil and Gas Company sekaligus Sekjen BKTI-PII serta dr. Lia Valentina, Dokter Spesialis Jantung dan penggagas Heart Failure Clinic.
Dalam sesi diskusi, Sri Darma Krida mengisahkan perjalanan hidupnya yang jauh dari kesan siswa berprestasi secara akademik.
Ia mengaku semasa sekolah tidak menyukai pelajaran eksakta dan bahkan kerap menjadikan UKS sebagai tempat "pelarian" karena sering tertidur di sana. Nilai akademiknya pun tidak tergolong tinggi.
"Saya memang tidak terlalu pintar, nilai saya juga biasa saja. Tapi saya percaya organisasi memberikan banyak kelebihan. Saya ketua OSIS, aktif di BEM saat kuliah, bahkan pernah aktif di partai politik. Kemampuan bergaul, berbicara, dan bertemu banyak orang sangat membantu karier saya," ujar Ketua Umum Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia (KIPMI) ini. .
Darma menceritakan pengalamannya bekerja di Astra sebelum kemudian berkarier di Amerika Serikat, termasuk di Amazon.
Menurutnya, kemampuan komunikasi, fleksibilitas, dan keberanian belajar hal baru menjadi modal penting menembus dunia kerja internasional, meski latar belakang pendidikannya di bidang psikologi berbeda dengan pekerjaan yang kini digelutinya di bidang keuangan dan analisis proyek.
Sementara itu, Donny Wahyudi mengajak peserta untuk berani mengikuti minat sejak dini. Ia mengaku ketertarikannya terhadap dunia komunikasi sudah muncul sejak remaja karena sering menonton MTV.
Minat tersebut membawanya menjadi penyiar radio selama delapan tahun, menulis di halaman remaja surat kabar lokal, hingga akhirnya meniti karier di dunia komunikasi korporasi.
"Apa yang saya kerjakan sekarang sebenarnya sudah saya pelajari sejak kuliah. Semua berawal dari minat, rasa ingin tahu, networking, dan kemauan untuk terus belajar," ujarnya.
Berbeda dengan Donny, Adi Fatkhurrohman mengenang masa sekolahnya yang penuh tekanan karena sistem disiplin yang ketat.
"Saat itu kalau tidak naik kelas bisa dikeluarkan. Cita-cita saya sederhana, bagaimana jangan sampai DO. Tapi kemudian saya pernah membayangkan bekerja jauh dari Pekanbaru, bahkan sampai Sulawesi. Sekarang ternyata benar saya bekerja di Sulawesi. Jadi hati-hati dengan apa yang kita pikirkan dan cita-citakan," katanya.
Moh. Shadiq Helmy juga berbagi pengalaman bagaimana kebiasaannya membantu teman membuat dirinya sering dipercaya menjadi pemimpin dalam berbagai kesempatan.
Sementara dr. Lia Valentina menyoroti perbedaan tantangan generasi milenial dengan Generasi Z. Menurutnya, kemudahan akses informasi saat ini menjadi pedang bermata dua.
"Dulu informasi tidak mudah didapat. Kami harus membaca, bertanya, bahkanmenelepon lewat wartel. Sekarang semuanya serba mudah, tetapi justru banyak yang kehilangan daya juang karena semuanya instan," ungkapnya.
Ia menilai segala sesuatu yang diperoleh melalui usaha akan jauh lebih bermakna dibanding sesuatu yang didapat secara instan. Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah membandingkan hidupnya dengan standar yang dibangun media sosial.
"Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin. Setelah itu biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya," urainya lagi. (MNA/SP).








