Mesin Perahu Mati Saat Hendak Mengajar, Guru Pedalaman Meranti Terjebak di Sungai
Kepala Basarnas Pekanbaru Budi Cahyadi melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, mengatakan seluruh guru berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. FOTO ISTIMEWA/FS
MERANTI (DPPR) – Sebuah pengabdian tenaga pendidik yang tidak kenal lelah. Perjalanan enam guru menuju sekolah di pedalaman Kepulauan Meranti, Riau, berubah menegangkan. Perahu yang mereka tumpangi tiba-tiba mati mesin dan terhenti di tengah perairan, Rabu (30/9/2026) kemarin.
Keenam guru itu hendak menuju SDN 10 Lukun di Dusun Keridi, Desa Batin Suir, Kecamatan Tebingtinggi Timur. Sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah di desa itu dan hanya bisa dijangkau melalui jalur sungai.
Perahu yang membawa Suardi, Ari Iswanto, Dani Marzuki, Ardolla, Nuraini dan Lismayani mengalami kerusakan pada bagian propeler. Perahu tak lagi bisa bergerak hingga rombongan terombang-ambing selama beberapa jam.
Dalam kondisi cemas, Lismayani berusaha mencari pertolongan. Ia menghubungi wartawan untuk meminta bantuan menghubungkan mereka dengan Basarnas.
Laporan itu kemudian diterima Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti. Tim Rescue bersama Tim SAR Gabungan langsung bergerak menuju lokasi yang berjarak sekitar 5 nautical mile.
Kepala Basarnas Pekanbaru Budi Cahyadi melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, mengatakan seluruh guru berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
"Kami telah melaksanakan evakuasi terhadap enam orang guru yang kapalnya mati mesin di daerah Batang Buah," kata Prima seperti dilansir riauaktual.com.
Menurutnya, informasi awal diterima dari jurnalis Ali Imroen. Setelah mendapat laporan, tim langsung menuju lokasi dan mengevakuasi seluruh guru.
Perjalanan menuju sekolah itu memang bukan perkara mudah. Setiap pagi, para guru berangkat sekitar pukul 06.00 WIB dari Pelabuhan Desa Banglas menggunakan perahu pompong.
Mereka menyusuri Sungai Suir, kemudian masuk ke anak sungai Batang Buah menuju Desa Batin Suir. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan berlumpur dan jembatan kayu yang rapuh.
Kepala SDN 10 Lukun, Suardi, bahkan membeli sendiri perahu yang digunakan untuk menunjang perjalanan mengajar.
Selama mengabdi sejak 1988, ia telah mengalami berbagai kejadian, mulai dari perahu tenggelam, dihantam gelombang, mesin rusak hingga kipas perahu tersangkut sampah.
"Kalau pompong ini rusak, kami bersama para guru dipastikan tidak bisa pergi mengajar, karena ini merupakan satu-satunya transportasi menuju ke sana," ujar Suardi.
Meski penuh risiko, para guru tetap menjalani perjalanan tersebut demi anak-anak Suku Akit di pedalaman yang menunggu mereka di ruang kelas.
Hari itu, perjalanan mereka sempat terhenti di tengah sungai. Namun, setelah dievakuasi Tim SAR, keenam guru tersebut akhirnya tiba di daratan dengan selamat. (MNA/RA)








