Dewandik Riau Kunjungi SLBN Pembina Pekanbaru, Pantau Sarana dan Prasarana Disabilitas Netra
Anggota Dewan Pendidikan (Dewandik) Provinsi Riau H Fithriady Syam melakukan monitoring ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Pekanbaru, Kamis (30/4/2026). DOK DEWANDIK RIAU/FS
PEKANBARU (DPPR) – Guna memantau pelaksananaa pendidikan agama seperti mengaji pada anak berkebutuhan khusus (ABK), Dewan Pendidikan (Dewandik) Provinsi Riau melakukan monitoring ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Pekanbaru' style='color:#0078b8;'>Pekanbaru, Kamis (30/4/2026).
Hal ini dilakukan agar terpenuhi hak-hal spritual anak-anak dalam menjalani pendidikan. Kunjungan Dewandik Riau ini dilakukan oleh H Fithriady Syam dan diterima langsung oleh Waka Kesiswaan Yatmiati, SPd, Waka keterampilan Reny Sriyanti, SPd dan Ketua Jurusan Tunanetra Makmur, MPd
Dalam pertemuan ini, Dewandik Riau juga memantau kecukupan sarana dan prasaran pengajaran tersebut.
‘’Kami melihat Al Qur’an Braille di sekolah ini mencukupi untuk pengajaran 11 siswa disabilitas netra. Siswa bisa mempelajari secara baik. Meski demikian, para pembimbing berharap jika ada materi Iqra Braille atau Juz Ama, maka akan lebih baik lagi. Durai mengaji di SLBN Pembina ini juga cukup baik, ada 2-3 pertemuan setiap pekannya,’’ kata Fithriady Syam disela-sela kunjungan.
Selain itu, dia juga menyebut Dewandik Riau memang selalu melakukan monitoring ke satuan pendidikan yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan.
‘’Ini terkait dengan salah satu fungsi Dewandik yang memantau sarana dan prasarana di sekolah. Memang ditemukan adanya kekurangan. Setakat ini, kami mencoba merekap dan mencarikan kerjasama kepada orangtua, para mitra yang ingin bersama-sama mendukung peningkatan mutu pendidikan,’’ lanjutnya.
Dalam pada itu, Ketua Jurusan Tunanetra SLBN Pembina Makmur MPd mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan Dewandik Riau dalam bidang pendidikan keagamaan tunanetra ini.
‘’Kami bersyukur ada perhatian khusus kepada anak-anak ini. Sangat jarang yang bertanya cara mereka mengaji, kesulitan memahami huruf-huruf arab, lama waktu mereka belajar hingga bisa memahami bacaan Al Qur’an Braille. Tapi bagi kami para guru, pendidikan keagamaan ini sangatlah penting. Kami melatih mereka setiap hari. Yang paling terasa sulit itu saat siswa baru. Memang sudah ada metode pengajaran. Tinggal lagi memberi penyesuaikan kepada mereka. Maklumlah anak-anak ini memang perlu diperhatikan. Kami sudah menjadikan anak-anak ini seperti anak sendiri. Memang harus sabar,’’ ujar Makmur seraya menunjukan beberapa Al Qur’an Braille.
Dalam pada itu, Waka Kesiswaan Yatmiati, SPd mengatakan bahwa pendidikan anak-anak disabilitas di SLBN Pembina ini memang sudah mengacu pada modul yang sudah disiapkan.
‘’Di sini ada 310 siswa disabilitas. Mereka semua berkebutuhan khusus. Kami bersyukur pemerintah, baik Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial selalu memberikan dukungan. Soal pendidikan keagamaan, memang menjadi perhatian utama. Sesulit apapun akan coba kami lakukan,’’ sebutnya.
Ditanyakan tentang kendala yang dihadapi dalam pelajaran mengaji bagi tuna netra, dia menyebut selama ini dilakukan secara dan bertahap.
‘’Awalnya memang sulit. Memberikan pengenalan huruf, menjelaskan secara perlahan. Maklumnya mereka punya keterbatasan tak bisa melihat. Apalagi langsung belajar pakai Al Quran Braille. Kalau ada paket Iqra Braille akan mempermudah pengenalan huruf-huruf arab. Kalau pakai langsung Al Qur’an memang agak lama. Bayangkan saja 1 juz, ada 1 buku besar. Dibaca dengan cara meraba titik yang timbul satu persatu,’’ jelasnya. (HFS/MNA)








