Jaga Pengaruh Negatif Digital, Program Yasin untuk Negeri Libatkan 40 Ribu Pelajar se-Riau
Kegiatan ini juga diikuti secara virtual oleh lebih dari 40.000 siswa dari sekitar 400 SMA dan SMK Negeri se-Provinsi Riau. DISKOMINFOTIK RIAU/FS
RIAU (DPPR) – Sebuah kegiatan spritual dilakukan di kalangan generasi muda. Sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pemuda dan masyarakat umum mengikuti kegiatan Yaa Siin untuk Negeri di Masjid Al-Maqari, Komplek LPTQ Purna MTQ, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru' style='color:#0078b8;'>Pekanbaru, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan ini juga diikuti secara virtual oleh lebih dari 40.000 siswa dari sekitar 400 SMA dan SMK Negeri se-Provinsi Riau.
Kegiatan yang diisi dengan pembacaan Surah Yasin, dzikir dan doa bersama tersebut digelar sebagai upaya memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah tantangan perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital.
Penasehat Al-Maqari, Alnofrizal, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial maupun ritual keagamaan semata, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk menghadirkan ketenangan hati, kejernihan pikiran dan keberkahan bagi daerah.
"Hari ini kita berkumpul tidak hanya sekadar berkumpul. Kita sedang menghadirkan doa, menyentuhkan harap, dan mengetuk pintu langit dengan lantunan ayat suci Al-Quran, khususnya Surah Yasin," ujarnya, Jum'at (12/6/2026).
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik seperti jalan, gedung, jembatan maupun teknologi. Masyarakat juga membutuhkan keteduhan hati, ketenangan jiwa serta kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
"Riau tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kesejukan hati, ketenangan jiwa dan ketenangan pikiran. Kita tidak hanya membutuhkan kecerdasan saja, tetapi juga kekuatan spiritual," katanya.
Ia menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat derasnya arus informasi yang masuk tanpa batas melalui berbagai platform digital.
Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi perilaku dan cara pandang generasi muda apabila tidak dibarengi dengan penguatan nilai-nilai agama.
"Kalian hari ini hidup dalam arus informasi yang tanpa batas. Informasi masuk ke handphone tanpa filter. Tidak sedikit yang terpapar konten negatif, hoaks, ujaran kebencian, bahkan perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai agama dan budaya Melayu, seperti penyalahgunaan narkoba maupun LGBT," ungkapnya.
Karena itu, Alnofrizal menegaskan bahwa kegiatan Yasinan bukan hanya sebatas membaca Surah Yasin, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga hati, memperkuat keimanan serta membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif.
"Kita yasinan tidak hanya sekadar ritual saja. Ini adalah upaya kita menjaga diri, menjaga hati dan menjaga masa depan. Kalau hati kita terbuka, pikiran akan jernih. Kalau pikiran sudah jernih, insyaallah langkah kita lurus," sebutnya.
Ia juga mengingatkan para pelajar agar tidak hanya mengejar popularitas di dunia digital, tetapi tetap berpegang teguh pada nilai moral dan ajaran Al-Quran.
"Jangan sampai kalian hebat di dunia maya, viral di media sosial, tetapi kehilangan nilai-nilai moral. Mari jadikan Al-Quran sebagai kompas kehidupan dan amalkan sepanjang hayat," jelas Alnofrizal.
Alnofrizal menyebut Masjid Al-Maqari kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan generasi muda di Riau.
Berbagai program pembinaan terus dilakukan, termasuk kegiatan pembelajaran dan pembinaan keagamaan yang telah melibatkan ratusan pelajar.
"Kita berharap dengan Yasinan ini Riau menjadi negeri yang sejuk, damai dan penuh berkah. Generasinya kuat, tidak mudah terpengaruh dunia maya dan masyarakatnya bijak dalam menyikapi berbagai persoalan sosial," harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Erisman Yahya, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilainya sangat positif bagi pembentukan karakter peserta didik.
Ia mengatakan para siswa saat ini berada pada masa pertumbuhan yang penuh tantangan sehingga membutuhkan pedoman yang kuat dalam menjalani kehidupan.
"Anak-anak kita sedang menghadapi berbagai perubahan dan tantangan. Karena itu mereka perlu memiliki kompas kehidupan agar senantiasa berada di jalan yang baik dan benar," ujarnya.
Menurut Erisman, nilai-nilai Islam yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan zaman.
"Alhamdulillah kita hidup di negeri yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya. Kita memiliki kewajiban moral untuk memberikan contoh yang baik dalam kehidupan. Ajaran Islam adalah pedoman yang harus kita laksanakan dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Ia berharap kegiatan keagamaan seperti Yasinan untuk Negeri dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat.
Hal senada disampaikan Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 8 Pekanbaru, Azlin. Ia mengaku terkesan dengan antusiasme dan kekhusyukan para siswa selama mengikuti rangkaian kegiatan.
"Alhamdulillah kegiatan hari ini sangat luar biasa dan berjalan lancar. Anak-anak sangat antusias dan mengikuti kegiatan dengan niat yang ikhlas. Bacaan Yasin, dzikir dan doa bersama sangat menyentuh serta memberikan kesan mendalam bagi mereka," ujarnya.
Menurut Azlin, kegiatan semacam itu perlu terus dilakukan karena menjadi bagian penting dalam membangun keimanan dan ketakwaan peserta didik.
"Semoga kegiatan ini tidak hanya sampai di sini, tetapi terus berlanjut. Karena inilah yang dibutuhkan anak-anak kita sebagai pembekalan iman, takwa, serta penguatan emosional dan spiritual mereka," tutupnya. (MNA/SP)








