Banner Atas

Internasional

Kualitas Udara di Malaysia Memburuk Akibat Asap, Sekolah Ditutup Lagi 5 Hari

Internasional Senin, 19 Oktober 2026 - 08:09 WIB
Kualitas Udara di Malaysia Memburuk Akibat Asap, Sekolah Ditutup Lagi 5 Hari

Pemerintah negara bagian Johor, Malaysia, memperpanjang penutupan sekolah selama lima hari mulai Senin (19/10/2026) akibat kondisi kabut asap yang membahayakan kesehatan. FOTO ISTIMEWA/INT

INTERNASIONAL (DPPR) - Pemerintah negara bagian Johor, Malaysia, memperpanjang penutupan sekolah selama lima hari mulai Senin (19/10/2026) akibat kondisi kabut asap yang membahayakan kesehatan. Kebijakan tersebut diambil setelah kualitas udara di sejumlah wilayah masih menunjukkan tingkat polusi yang mengkhawatirkan.

Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negara Bagian Johor Muhammad Naqib Md Ghazali mengatakan, keputusan tersebut ditetapkan setelah rapat Komite Koordinasi Penanganan Kabut Asap Johor pada Sabtu (17/10/2026).

“Hasil pemantauan menunjukkan indeks polusi udara masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, tanpa perbaikan signifikan,” kata Naqib, seperti dikutip media lokal.

Ia menjelaskan, perpanjangan penutupan sekolah akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, dan penilaian kesehatan yang berlangsung. Kebijakan itu juga mengikuti arahan Pemangku Raja Johor Tunku Mahkota Ismail serta mencerminkan komitmen pemerintah negara bagian untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung melalui pembelajaran dan pengajaran di rumah (PdPR), sesuai dengan Manual PdPR Versi 2.0 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Malaysia.

Pengecualian terbatas dapat diberikan kepada siswa yang harus mengikuti ujian dan penilaian. Namun, pelaksanaannya harus dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Johor dan mengikuti prosedur operasional standar kesehatan secara ketat. Tidak ada kegiatan tambahan yang diizinkan.

Departemen Pendidikan Johor juga akan meninjau prosedur operasional setiap hari mengikuti arahan kementerian. Koordinasi dengan lembaga pemeriksaan kementerian dilakukan untuk mengatur jadwal ujian dan penilaian bagi sekolah pemerintah maupun sekolah agama.

Berdasarkan data Departemen Lingkungan Malaysia pada Minggu (18/10/2026) pukul 08.00 waktu setempat, Pasir Gudang mencatat indeks polusi udara (API) sebesar 190. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Malaysia pada saat pemantauan dan masuk kategori tidak sehat berdasarkan skala API.

Johor menjadi negara bagian yang paling terdampak, dengan delapan stasiun pemantauan mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Selain Pasir Gudang, wilayah terdampak meliputi Larkin dan Kota Tinggi, masing-masing dengan indeks 181, Pengerang (178), Batu Pahat (169), Kluang (163), Tangkak (160), serta Segamat (157).

Polusi juga meluas ke kawasan Lembah Klang meskipun hujan deras sempat mengguyur wilayah tersebut. Johan Setia mencatat indeks 163, disusul Shah Alam (161), Klang (159), Petaling Jaya (157), dan Banting (156).

Di Kuala Lumpur, indeks polusi di Cheras mencapai 156 dan Batu Muda 155. Sementara itu, Putrajaya mencatat angka 159.

Dalam skala API Malaysia, pembacaan 101–200 dikategorikan tidak sehat, sedangkan angka di atas 200 masuk kategori sangat tidak sehat.

Naqib mengimbau masyarakat mengenakan masker dan mematuhi panduan kesehatan untuk mengurangi risiko paparan polusi. Otoritas kesehatan juga menyoroti bahaya paparan udara tercemar dalam waktu lama, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Menurut Naqib, sebanyak 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas tercatat di Johor sepanjang Oktober. Jumlah tersebut dilaporkan meningkat 20,7% secara mingguan.

Sebelumnya, pemerintah Johor telah memerintahkan penutupan sekolah selama dua hari mulai 8 Oktober, kemudian memperpanjangnya selama lima hari sejak 12 Oktober. Perpanjangan terbaru dilakukan karena otoritas masih memantau kualitas udara dan menilai keamanan bagi siswa untuk kembali belajar di kelas. (MNA/INT)

Muthia NA
Editor :Fithriady Syam